Menurut World Health Organization (WHO), stunting dapat terjadi karena adanya gangguan tumbuh kembang pada anak lantaran gizi buruk, infeksi berulang, serta stimulasi psikososial yang tidak memadai.
Seorang anak dapat dinyatakan stunting jika tinggi badan menurut usianya lebih dari dua standar deviasi, di bawah ketetapan Standar Pertumbuhan Anak WHO. Hal ini wajib diwaspadai karena dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan otak sang anak.
Anak pengidap stunting cenderung memiliki IQ rendah serta sistem imun lemah dibanding teman sebayanya serta mempunyai risiko lebih tinggi menderita penyakit degeneratif, seperti diabetes dan kanker di kemudian hari.
Di Indonesia, jumlah penderita stunting terus mengalami peningkatan. Setidaknya, setiap satu dari tiga anak mempunyai risiko mengalami stunting. Oleh karena itu, Anda perlu melakukan berbagai langkah pencegahan seperti:
-
- Penuhi kebutuhan gizi pada anak Anda sejak masa kehamilan

Lembaga kesehatan Millenium Challenge Account Indonesia memberi anjuran kepada Anda yang sedang hamil untuk selalu mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi serta suplemen atas anjuran dokter. Perempuan yang sedang menjalani proses kehamilan juga dianjurkan untuk rutin memeriksakan kesehatannya kepada dokter atau bidan.
-
- Berikan ASI Eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan

Menurut Scherbaum, ASI dapat mengurangi potensi stunting pada anak berkat kandungan gizi mikro dan makro. Jadi, Anda disarankan untuk tetap memberikan ASI selama enam bulan kepada sang anak. Protein whey dan kolostrum yang terdapat pada ASI juga mampu meningkatkan sistem imun pada tubuh bayi.
-
- Dampingi ASI dengan MPASI

Ketika bayi menginjak usia 6 bulan ke atas, Anda dapat memberikan makanan pendamping ASI atau MPASI. Pastikan berbagai makanan yang dipilih dapat memenuhi gizi mikro dan makro yang sebelumnya berasal dari ASI dalam mencegah stunting. WHO juga merekomendasikan fortifikasi nutrisi ke dalam makanan sesuai anjuran dokter secara hati-hati.
-
- Teruslah memantau tumbuh kembang anak

Anak yang mengalami stunting biasanya mempunyai postur tubuh lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya. Ibu memiliki peran penting untuk terus memantau tumbuh kembang mereka, terutama dari tinggi dan berat badan anak. Mulailah ajak si kecil secara berkala ke Posyandu maupun klinik khusus anak agar Anda lebih mudah untuk mengetahui gejala awal gangguan stunting pada sang anak dan penanganannya.
-
- Jagalah kebersihan lingkungan rumah Anda

Lingkungan yang kotor akan memberikan serangan berupa penyakit kepada anak Anda. Faktor ini juga meningkatkan peluang stunting secara tidak langsung. Riset yang dilakukan di Harvard Chan School menyebutkan diare menyebabkan gangguan kesehatan tersebut. Salah satu pemicu diare datang dari paparan kotoran yang masuk ke dalam tubuh manusia. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kebersihan di sekitar lingkungan tempat tinggal agar anak Anda terhindar dari berbagai jenis penyakit.
Nah udah pada tau kan moms??? Yuk berikan komentar dan share ke orang terdekat Anda serta jangan lupa untuk menjaga asupan nutrisi Si Kecil dengan produk Lovina Abon….
Reference:
Program Penurunan Stunting, Apa Susahnya? – Kemenkeu. Dari: https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-ternate/baca-artikel/15305/Program-Penurunan-Stunting-Apa-Susahnya.html. (Diakses pada 30 Mei 2024)
Stunting: What it is and what it means – Concern Worldwide U.S.. Dari: https://concernusa.org/story/what-is-stunting/. (Diakses pada 30 Mei 2024)


